Langit Memar di Atas Menara

langit memar
manakala suara azan dikumandangkan
dari menara Masjid al-Aqsha
dan airmata mata air itu
meruah dari bukit utara
menghilir trenyuh membelah kota
bermuara keruh ke laut Jawa

dadaku gemetar
tak lagi kusua daun-daun kopi
di lereng Muria, ke mana lari
biji-bijinya?
ke mana kini burung-burung undan?
aku rindu aroma pandan
pada kue serabi dengan gula kelapa
yang bangkitkan kenang
akan situs batu lumpang
– sejarah yang patah –
musnah-raib, hilang

kini tinggal kaki-kaki berdaki
bergegas langkah
dengan pandang mengambang
tak berarti ke depan
apalagi menoleh ke belakang

jabatlah dingin tanganku, duh Kekasih
hibur kepiluan nostalgiaku
agar kembali kusyukurhayati
manis jenang
gurih lentog tanjung
pedas pecel pakis
asam buah parijata
dan sedap asap sate kerbau

Kekasih,
langit memar di atas menara
dada gemetar
membendung airmata

Kudus, 2014

Comments

Popular posts from this blog

Begitu Sederhana

Kabut Asap

Masih Berjalan