Posts

Showing posts from May, 2017

Muria Tersepuh Senja

kalau Muria tersepuh senja, kabarkan padaku kekhusyukan menyimak ayat-ayat semesta tentang liuk sungai di pinggang gunung, menikung merayap menjauh ke cakrawala merah menjingga bagai selendang penari melampai di pucuk-pucuk cemara yang daunnya berderai singgah di rambutmu bergerai mem bisikkan desah resah tak kunjung sudah air bening yang membiaskan awan dan pohonan ditampung teras-teras pematang, mengilatkan cahaya terper angkap pada ruang-ruang yang engkau di dalamnya bermesra dalam keparahan rindu mendamba bayang-bayang purba kalau Muria tersenyum di ujung hari, kabarkan padaku matahari membenam di kerindangan dedaun cinta burung-burung pulan g ke kabut suram bayang-bayang meluruh pada semak-semak igau pada segala mimpi sengau Kudus, 2015

Cinta Terpendam

siapakah mengirim bunga yang menyebar aroma taman m endekap gi gir rabu angin tersenyum samar mendedahkan rindu. matahari pagi berselancar pada langit biru. dan termangu , tergores kenangan itu. siapakah mengenang lagu mendayu membelai sukma lara dirajam cinta yang membeku. rasa sakit yang tersisa membekaskan luka memenuhi taman pertemuan yang bisu genggam tangan yang masih terasa mela mbungkan kembali harapan sua mata yang man ja pun pipi merona menikam kalbu menyuguhkan nyeri keindahan semu dan badai pun mengamuk di lautan sendu m eremas jantung , menyebar ketersiaan di sepanjang semenanjung, siapakah yang me njumput sebutir pasir di perih pesisir itu manakala ke pada Tuhan jua tersungsang mengadu akan epilog perih yang tak henti memanjang , teruntai sebagai biji tasbih syair-syair, tentang K esejatian C inta yang terpendam tiada berakhir Kudus, 13-05-2015

Sesal

ada sesekali yang mesti diraih dalam renang ada setiap kali yang perlu di gapai dari renung lautan hati yang be riak gelombang kobar gairah yang membakar membubung ada sesekali yang akhirnya disesali ada setiap kali yang harus disusuli awan kemarin yang kadung terlewat angin sekarang yang tak urung melesat kemudian ketika rubuh mendebu erat bertahan pada lenganmu o, jangan lepaskan o, jangan tinggalkan Kudus, 29 April 2015

Setiap Kaubuka Jendela

setiap kaubuka jendela pagi menyuguhkan kabut mempergegas bayang senja kelam memagut tapi geletar pada jiwa tak henti berlari mengombakkan gairah matahari tapi debar pada jantung tak mau reda menuntas malam, kembali membuka jendela

Kaligelis

kaligelis bersaksi masa kala Tajug berapi gemercik air merahasia berapa merebus nyawa sampah pun mengarus Kudus tergerus tapi air di kelopak jatuh tak hendak langit Muria menjingga orang masih hibuk menyelip senja menuju peluk pada langit gelap masih saja berhitung dalam hening lelap asa bergantung kaligelis rindu berlapis Kudus, 2014

Langit Memar di Atas Menara

langit memar manakala suara azan dikumandangkan dari menara Masjid al-Aqsha dan airmata mata air itu meruah dari bukit utara menghilir trenyuh membelah kota bermuara keruh ke laut Jawa dadaku gemetar tak lagi kusua daun-daun kopi di lereng Muria, ke mana lari biji-bijinya? ke mana kini burung-burung undan? aku rindu aroma pandan pada kue serabi dengan gula kelapa yang bangkitkan kenang akan situs batu lumpang – sejarah yang patah – musnah-raib, hilang kini tinggal kaki-kaki berdaki bergegas langkah dengan pandang mengambang tak berarti ke depan apalagi menoleh ke belakang jabatlah dingin tanganku, duh Kekasih hibur kepiluan nostalgiaku agar kembali kusyukurhayati manis jenang gurih lentog tanjung pedas pecel pakis asam buah parijata dan sedap asap sate kerbau Kekasih, langit memar di atas menara dada gemetar membendung airmata Kudus, 2014

Ayo, Tarikan Kata-kata di Bumi Nusantara

ayo, tarikan kata-kata, dalam kesepemahaman, di panggung tanah tercinta tarian gemulai membubungkan mimpi-mimpi sama tentang rimbun rimba jati, darasan getah para, dan pelepah nyiur menjulaikan daun-daunnya : embusan kesejukan, gumpal gairah kerja, dan kibaran jiwa-jiwa merdeka ayo, tarikan kata-kata, dalam kebersahajaan, di pentas ranah-ranah pusaka tarian melayangayunkan denyar-denyar cinta debar-debar jatidiri masing-masing yang berbeda melambaikibarkan selendang kedamaian di lelangit jiwa ayo, tarikan kata-kata, dalam kebersamaan langkah, di dada bumi persada tarian yang kelak membelalakkan mata dunia memukaukan wajah-wajah tulus menguraikan simpul-simpul kepalsuan jiwa merobohkan pagar kejumawaan bangsa-bangsa ayo, kita hijaukan nusantara dengan karnaval kata-kata ayo, kita bersihkan udara dengan kesejatian makna Kudus, 2014

Indonesia Kita

tiada cinta tak luntur akan sehamparan tanah tersubur selain yang terbujur antara 95 o BB dan 141 o 45’ BT, walau hati hancur – adakah yang lebih lebur? – tersebab ceceran darah acap tertumpah pada bumi yang pasrah tiada yang lebih tersayang akan keluasan perairan dan daratan selain yang melintang antara 6 o LU dan 11 o 08’ LS, kendati kedamaian melayang – adakah yang lebih lengang? – dihempas badai yang melanda jiwa-jiwa landai tiada sanjung tak kunjung padam selain pada zamrud yang teruntai sepanjang 3.977 mil di antara samudera hindia dan samudera pasifik sekalipun segala damba meremukredam – adakah yang lebih merajam? – memuai mengabadi klasik o, tetes airmata yang tak jua tuntas, menetaskan keraguan antara bahagia dan derita o, luka yang tak jua kering, membarahkan jiwa terpojok terasing di sanalah bumi dipijak, di sanalah langit dijunjung dalam gairah membuncah menggelegak menggelembung di sanalah berbangga, di ...

Syair Duka bagi Tanah Tercinta

di tanah tercinta kutumpahkan airmata bagi mereka yang dieksploitasi dianiaya diperas tenaganya dengan upah tak selayaknya diperbudak diperhamba oleh tuan angkara lihatlah pabrik yang melimbahkan racun padamu dikatakan menguapkan embun ketakramahan yang berkelun mengasapi paru-paru menahun di tanah tercinta kusimpantahan airmata bagi mereka yang dihasut mendukung penguasa ditelikung tangannya agar tak berupaya dibungkam mulutnya agar tak bersuara lihatlah para pemuda yang digoda segepok uang untuk melanggengkan jiwa sewenang-wenang keperwiraan yang menghilang pengkhianatan yang mengembang di tanah tercinta kubendung airmata bagi mereka yang mau dijadikan boneka digerakkan semaunya oleh majikannya diperalat tiada semena di depan gapura lihatlah para elite bertengkar bertikai sebagai tumbal kejayaan sebuah partai hati nurani telah tergadai demi kepentingan berbagai-bagai bila kritik tidak diambil peduli bila maki-maki mengirimmu ke bui bila puisi malah tidak dip...

Requiem bagi Seorang Koruptor

jasad kaku tergolek bak bangkai hewan lidah kelu lolong memanjang tak terhiraukan angin beracun pasir mengeras tangkai berayun putik pun lepas ada daun-daun berbisik tentang diri yang tak bakal jadi humus ada akar-akar berujar akan nafsu yang menjalar-jalar kesasar kemudian berselingkuh dari hati yang kudus kemudian keluar dari kebenaran yang berdegar walau mampu meletik bagai belalang walau mampu menyelinap di antara ilalang engkau pun tak mampu menghindar lubang engkau pun tak mampu menolak sempit ruang ingat pada yang lain harus berdesakan mengantri engkau memilih kursi sambil menyanyi dan berpuisi ketika yang lain berkeringat dan berair mata darah engkau memetik untung berlipat dengan serakah andai gedung-gedung runtuh menyerbuk andai gerbang-gerbang tumbang berserak engkau pun terus mabuk nurani pun jadi lantak ketika yang lain menahan rintih di waktu lapar lidahmu memilin-pilin makanan yang engkau senang ketika yang lain kauminta untuk bersabar engkaula...

Syair Gang Marpangat

, piek ardijanto soeprijadi di gang marpangat aku tersesat di lautan kata namun lidahku kelu tak sepatah yang tersisa jalan yang kupijak menjelma sajak teramat lara mengingat bapa yang berangkat dengan tiba-tiba kalaulah mendung bergantung pada lelangit jiwa hati teriris air mata menggerimis dari mataku jua kalaulah matahari menyinari puisi terdedah di lema beribu mata silau perih menangkap isyarat cahaya kalaulah kudengar bisik-bisik ombak bercerita jiwaku teremas bagai bambu merepas batangnya kalaulah kupandang gang yang hilang sukma aku mencari seorang warga berhati permata kuhayati air laut menetes sebagai peluh jiwa dengan asin garam mengkristal di seluruh raga kuhikmati segala nasihat yang bijak tulus kata sebagai wasiat yang kusimpan di dalam dada o, bapaku, inilah syair bagimu, wahai ayahanda sebagai hamba-Nya aku hunjukkan setulus doa wahai Tuhan yang menggenggam alam semesta beri ampunan dan rida-Mu pada bapaku seluasnya walau sajakmu terkubur di gersang d...

Belajar pada Lautan

luas tanpa tepi laut pun mendesis mencari pesisir tempat pengembaraan dikisahkan tanpa akhir dan kubaca, takdir ikhwal gelombang yang menjelma ombak kemudian berlalu sebagai riak dan kutangkap, detak bila kapas putih didorong angin bergumpal dan berberai disongsong dingin telah kurasa, ingin langit biru laut pun membiru menjamah cakrawala mengabu telah kutepis, ragu lalu perahu-perahu yang menebar jala mengekalkan keringat membasahi palka maka kudengar, debar ketika semua dikelamkan malam jelaga bintang-bintang berkeredap menjadi tanda maka aku pun berharap, tegar Kudus, 2015

Ke Manakah Kini Anak-anak Laut

bila angin letih bertiup melenakan hidup mematikan laut debur ombak melagukan gairah tapi minor pada pasir yang basah pantai semata kumuh bergumpal jasad melayang rapuh tersungkur berebah menyampah air laut yang dulu darahmu ombakkan langkah ke satu arah menuju tanah tak tertemu ranah segala harap negeri berlaksa impian tabir-tabir bebas tersingkap manakala elang bertempiar berkabar badai jiwa pun runduk gemetar pengharapan melandai bila angin mencakar buih mendesah karang bergeming ke manakah engkau anak-anak laut mencari-cari suluh pada peluh nenek moyang? angkatlah sauh dan kembangkan layar kibarkan kebanggaan pada setiap tiang kau akan temukan kesejatian pada rusuk gelombang Kudus,2015

Lautku Kangenku

kabarkan tentang camar dan ikan-ikan, wahai lautku bagaimana menentang angin dan pusaran seberapa berat menghela nasib seberapa asin belajar bertahan pada langit dan kedalaman kisahkan tentang layar dan buritan, wahai kapalku bagaimana melajukan hidup dan mengendalikan keinginan setegar mercu kukuh menjulang seterang pancar suar berdenyaran pada hidup dan kehidupan nyanyikan tentang badai dan karang, wahai langitku bagaimana menantang maut dan meneguh hidup menyandang badik kabarkan tentang camar dan ikan-ikan, wahai lautku bagaimana menentang angin dan pusaran seberapa berat menghela nasib seberapa asin belajar bertahan pada langit dan kedalaman kisahkan tentang layar dan buritan, wahai kapalku bagaimana melajukan hidup dan mengendalikan keinginan setegar mercu kukuh menjulang seterang pancar suar berdenyaran pada hidup dan kehidupan nyanyikan tentang badai dan karang, wahai langitku bagaimana menantang maut dan meneguh hidup menyandang badik sekepal ta...