Syair Gang Marpangat
, piek ardijanto soeprijadi
di gang marpangat aku tersesat di lautan kata
namun lidahku kelu tak sepatah yang tersisa
jalan yang kupijak menjelma sajak teramat lara
mengingat bapa yang berangkat dengan tiba-tiba
kalaulah mendung bergantung pada lelangit jiwa
hati teriris air mata menggerimis dari mataku jua
kalaulah matahari menyinari puisi terdedah di lema
beribu mata silau perih menangkap isyarat cahaya
kalaulah kudengar bisik-bisik ombak bercerita
jiwaku teremas bagai bambu merepas batangnya
kalaulah kupandang gang yang hilang sukma
aku mencari seorang warga berhati permata
kuhayati air laut menetes sebagai peluh jiwa
dengan asin garam mengkristal di seluruh raga
kuhikmati segala nasihat yang bijak tulus kata
sebagai wasiat yang kusimpan di dalam dada
o, bapaku, inilah syair bagimu, wahai ayahanda
sebagai hamba-Nya aku hunjukkan setulus doa
wahai Tuhan yang menggenggam alam semesta
beri ampunan dan rida-Mu pada bapaku seluasnya
walau sajakmu terkubur di gersang dunia
tapi bertumbuh melewati luas tegal jiwa
tertatih aku mencarimu, ayahanda
pada kertas-kertas yang terluka
o, ibunda,
ibu yang tak kalah perkasa
padamu aku menghiba
akuilah aku anakmu jua
Kudus, 2015
Comments
Post a Comment