Posts

Showing posts from June, 2017

Keindahan yang Akan Ditumbangkan

wajahmu riang meng abarkan. berbagai warna berpadu menghias langit dan jiwamu . engkau pun terkesima. nuansa mengundang de bar. senyum lengkung semburat samar . semilir s enja mematrikan puisi . angin pagi mengelus kata. dan engkaupun terkesiap. ketika langkah-langkah berderap. menggalah mengusik lukisan udara . menelikung segala makna . mencera ikan pelangi dari bait-bait purba . sesudah itu engkaupun mengurai warta . berurai airmata. terbata-bata . Kudus, 2015

Kabut Asap

kabut asap menyelubung nurani sirnakan kearifan dari pandang air mata sedih membanjir bandang tiada daya memadamkan api angin tak henti bertiup meski menara mengabut biduk masih menjangkau-jangkau meraih-raih daunan hijau tapi kenapa terasa jauh? tapi kenapa semakin jauh? Kudus, 2015

Walau Aku Daun

walau aku daun, aku memandang, kau tak melihat tubuhku perih menggeliat dijilati api yang memamah dengan rakus. sebagaimana salah rumus yang engkau paksaterapkan pada hitungan yang harus menguntungkan. sehingga, keajaiban ilalang menusuk bulan hilang dari pandangan. walau aku ranting, aku menatap, kau tak mendengar tubuhku meratap bergemeretak dikunyah api sepenuh lapar. sebagaimana mulutmu menganga menadah rupa-rupa suguhan. sehingga, pesona burung hinggap di dahan tinggal lukisan di dinding pameran walau aku akar, aku bersaksi, kau tak merasa tubuhku nyeri diberangus api yang memanggang penuh kebengisan. sebagaimana rasa iba yang tanggal dari jiwamu. sebagaimana asap hitam bersekutu dengan ruhmu. sehingga, hara yang penuh harapan tinggal kisah sendu dituturkan ibu. wahai Pencipta dan Pemilikku kabut asap telah menista kehidupan tangan-tangan berjari api, hati berkabut pekat mengendap-endap berkeliaran di seantero jagad mencakar dan mengoyak-koyak kemanusiaan ...

Tiada Lagi yang Mesti Ditafsir

tiada lagi yang mesti ditafsir ketika langit membarakan cahaya memancarkan nyalang serigala menyembur api dari taring naga hangus-arangkan beribu jiwa meregangkan kata-kata bertanggalan dari makna tiada lagi yang mesti dimaknai ketika udara membekukan panorama menggemuruh badai salju menggigilkan dedaunan dan nyali beribu tiada lagi yang mesti dieja ketika cuaca membiaskan persoalan membingkaikan fakta jadi pajangan menanarkan nalar menyalib senja semua jelas semakin banglas Kudus, 2015

Begitu Sederhana

bila matahari tersenyum menawarkan cericit burung berhijab daun-daun, ia sambut kilau keemasan dengan dendang kesederhanaan yang menjelmakan bayang bagi pancang sepanjang hari menuju remang bila langit mewarnai lautan bertemu di garis melintang sepanjang pandang, membisikkan desah misteri memuisi di palung hati, ia menyapa dengan wirid dari setiap palka yang mendamba daratan untuk menyinggahkan segala harapan bila puncak bukit tersentuh kelam , gerumbul dan sungai menggurat keheningan, gumpalan awan membentangkan cinta; ia pandang warna jingga sederhana. mengelus kenangan andai kemudian malam menjelaga, kebiruan pun sirna, bahkan warna api menyala, mewartakan putih dihitamkan, arus dibelokkan, taring dipamerkan, sementara ia, pada jiwa nya, senantiasa menyalakan perpaduan semburatkan bianglala; o, wajah itu menyu ratkan kearifan, mata itu menyirat k an keteduhan. begitu bersahaja. begitu sederhana. Kudus, 19-07-2015

Akan Kubakar

seperti pengembara letih, tanpa gamis dan surban, di kiri kanan berjuntai merjan, walau tertatih masih berjalan, menuju-Mu, mengharap api kasih-Mu yang bergoyang di pediangan, untuk membakar pesona sutera dan permata yang tak henti menggoda merampasnya dari orang berpunya. seakan pelaut yang perih, tiada jubah, angin menampar, walau terhuyung selalu mendekat pada-Mu, menggapai suluh yang meliuk sebagai penerang membaca senyum-Mu yang berdes ar pada layar, agar senantiasa bahagia berselancar, membuat logam dendam dan lempeng kebencian meleleh, larut di riak ombak pada remang fajar. seolah pejalan mengabaikan peta, tanpa alas kaki, sementara semak semata duri, walau terseok terus menempuh jalan-Mu, memohon belas yang menderas pada pematang untuk menumpas serigala yang melolong mengiang memekakkan nalar, agar jiwa pun merdeka memeluk -Mu. seumpama pemburu kehilangan gendewa, rimba hanya melebatkan menara, walau dengan terlunta tetap merambat menuju-Mu, mengemis rida y...

Masih Berjalan

dilayangayunkan matahari , segala cipta menguap mengasap jadi mendung . jangan kisahkan hati yang jadi linglung. jangan bert anya siapa mengurai buhul cinta berserak jadi puing sedemikian rupa menciderai aorta dan dinding jantung adakah matamu berkaca saat terpana melihat seseorang menyeret langkah , peluh membasah, menjinjing galau di jalan aspal kemarau bersetia menatap cakrawala hijau seseora ng itu masih berjalan s ebagaimana andai dibakar terik S emarang Kudus, 2015

Pagi Terluka

camar menjerit-jerit pagi pun ter luka . me nembus halaman kitab tak tereja . menukik di padang-padang gersang . menusuk hati , nyeri, garing kerontang tertegun, halimun pelahan melayang turun . menab ir gelap , menyemburatkan warna pelangi . padahal sinar telah menyebar menuntun . panorama menyingkap pesona seraut hari terpana, bahkan pagi paling bersahaja dikirimkan-Nya agar terp etik cahaya . menatap lanskap di garis pandang yang banglas , merengkuh ud ara , ikhlas di kebun-kebun luas mengapa ayat-ayat hanya semata kata. menutup kitab dalam debaran menghiba. dalam gerimis pilu di mata sendu . dalam derita yang fana. dalam gapaian merindu. pada-Nya , Tuhanku, aku meringkuk pedih dalam kerangkeng yang kadung kuanyam . yang menjerat mem erangkap . dan aku terhijab. hanya kasih-Mu jua yang rida membebaskan. dalam belai halus mendekap Kudus, 2015

Masih Ada

sekeping matahari pagi k u jumput dari balik kabut . cahayanya yang resah melayar kan jiwak u menuju ranah basah. tempat airmata k u tumpah. taman persemaian segala harap bagi yang mau berkeringat. dan mengeranjangkan segala desah. menyampahkan segala kesah. tapi aku pun sadar, di sana bunga-bunga mekar s etiap lahan memba ktikan apa pun bisa tumbuh biasa k usaksikan sejak embun merangkul subuh barangkali angsa di kolam yang riang berenang lebih pintar menerjemahkan lamat petikan gitar sejak fajar . kadang pikir menjungkalkan akal menggelepar pada pagi banal lalu airmata yang berderai membasahi mimpi menghidupkan bayang pada kanvas, menarikan kidung keagungan di atas sajadah yang tak pas mengungkap kalam berandai-andai, menulis sajak berangkai-rangkai , kepada-Mu hanya aku memuara. Kudus, 2015

Perahu-perahu yang Mengusung Airmata (pengungsi Rohingya)

perahu-perahu yang terombang-ambing di lelehan airmata , mengisahkan derita lain anak manusia . terapung tanpa mesin yang dirampas . kemerdekaan jiwa pun b erlepas -lepas mengarus sekehendak ombak . di tengah lautan waswas merebak . terik matah ari memantulkan peluh , pada tubuh dan tulang belulang merapuh. dingin malam mengunyah rembulan , mengikis habis segala keindahan. g elombang dan hujan men yegerakan tangis . mengiris memanjang lenyap tenggelam di abis bagai anjing dihalau ditimpuk batu , ditendang keluar dari gerbang -gerbang yang tertutup rapat setelah itu . dan tert u tup semua pintu . dan tertutup semua pintu dan mulailah pengembaraan tanpa tepi se tiap hari hanya seteguk air sesuap nasi perahu- perahu yang mengusung airmata terapung-apung menunggu kumandang bang daratan yang membuka hati he ntikan nestapa tangis anak-anak cekung mata menerawang masa depannya Kudus, 2 Mei 2015

Ayah yang Kukenang

acap kembali terdengar samar suara sepatu-sepatu yang menderapkan hati untuk gagah melangkah. s eragam dan topi pet hijau merebakkan rasa bangga menepis gerah hari resahrisau. pandang lurus ke depan lelaki itu melaju angkuh . p adaku , anak berbaju lusuh , tak menoleh , apalagi senyum yang menoreh langit biru bercerita tentang rindu, aspal jalan berkisah sesal, dan angin panas berkias wajah pias, pencarian yang dangkal. aku termangu , terjepit dalam kerumunan di sepanjang jalan itu. menyela bisik tetangga, “komandan itu ayahmu!” tapi luka telanjur menganga . menghuyungkan langkah kecewa menuju senja. sekilas barisan itu pun berlalu meninggalkan jejak-jejak panjang memerihkan dadaku benarkah ia ayahku? Kudus, 17 Mei 2015

Senyum Ibunda

senyum i bunda membayang merekah membelah kesumat yang kusekap dalam kamar kelabu. ruang yang kini hampa hanya mencatat pilu. t ingkap tak terbuka mengandangkan udara pengap menghapus bau asin keringat yang kurindu. bunda , perih menghamba pelukanmu, luka mendamba memelukmu ketika malam luruh menembus genting, mengelus plafon dan dinding, kumaknai belaian pada rambut dan kening. kelambu tak mampu lagi menirai bagi gerimis jiwa ku yang merinai pada kasur dan sprei. kalau engkau berpaling, bunda , cinta pun lepas terbanting gelap pun men ikam . tak kubiarkan wajahmu membenam . menggigil jari-jariku melekam sajak-sajak cintamu . k uraih bayang tapi senyummu menjauh . sebelum merasuk pada wingit subuh bunda, aku masih kangen ! “ usah kau memuja malam , anakku !” Kudus, 15 Mei 2015