Walau Aku Daun
walau aku daun, aku memandang, kau tak melihat
tubuhku perih menggeliat dijilati api yang memamah
dengan rakus. sebagaimana salah rumus yang engkau
paksaterapkan pada hitungan yang harus menguntungkan.
sehingga, keajaiban ilalang menusuk bulan hilang
dari pandangan.
walau aku ranting, aku menatap, kau tak mendengar
tubuhku meratap bergemeretak dikunyah api
sepenuh lapar. sebagaimana mulutmu menganga
menadah rupa-rupa suguhan. sehingga, pesona burung
hinggap di dahan tinggal lukisan
di dinding pameran
walau aku akar, aku bersaksi, kau tak merasa
tubuhku nyeri diberangus api yang memanggang
penuh kebengisan. sebagaimana rasa iba
yang tanggal dari jiwamu. sebagaimana asap hitam
bersekutu dengan ruhmu. sehingga, hara yang penuh
harapan tinggal kisah sendu
dituturkan ibu.
wahai Pencipta dan Pemilikku
kabut asap telah menista kehidupan
tangan-tangan berjari api, hati berkabut pekat
mengendap-endap berkeliaran di seantero jagad
mencakar dan mengoyak-koyak kemanusiaan
selanjutnya pada tangan-Mu
selanjutnya pada tahta-Mu
Kudus, 2015
Comments
Post a Comment