Akan Kubakar
seperti pengembara letih, tanpa gamis dan surban,
di kiri kanan berjuntai merjan, walau tertatih masih
berjalan, menuju-Mu, mengharap api kasih-Mu yang
bergoyang di pediangan, untuk membakar pesona sutera
dan permata yang tak henti menggoda merampasnya
dari orang berpunya.
seakan pelaut yang perih, tiada jubah, angin menampar,
walau terhuyung selalu mendekat pada-Mu, menggapai
suluh yang meliuk sebagai penerang membaca senyum-Mu
yang berdesar pada layar, agar senantiasa bahagia
berselancar, membuat logam dendam dan lempeng
kebencian meleleh, larut di riak ombak
pada remang fajar.
seolah pejalan mengabaikan peta, tanpa alas kaki,
sementara semak semata duri, walau terseok terus
menempuh jalan-Mu, memohon belas yang menderas
pada pematang untuk menumpas serigala yang melolong
mengiang memekakkan nalar, agar jiwa pun
merdeka memeluk-Mu.
seumpama pemburu kehilangan gendewa, rimba hanya
melebatkan menara, walau dengan terlunta tetap
merambat menuju-Mu, mengemis rida yang menggebubu
di pucuk ranting dan daun, agar mampu memberangus
kerakusan yang berdiam dalam jantung hingga terlepas
dari jerat dunia yang menelikung.
sebagai pecinta yang lusuh terluka, menemu kesetiaan
yang menghablur, walau dengan tersia tak jemu
memburu-Mu, merintih menadah hidayah-Mu
yang berpendar di halimun yang turun, untuk mengeja
ayat-ayat-Mu yang berdebur, hingga laku khianat pun
lebur.
ya Tuhan, adakah yang lebih anggun selain kembali
ke kekhanifan seorang insan yang bersujud dalam
diam. dalam airmata yang tersimpan.
Kudus, 16-07-2015
Comments
Post a Comment