Ayah yang Kukenang
acap kembali terdengar samar suara sepatu-sepatu
yang menderapkan hati untuk gagah melangkah.
seragam dan topi pet hijau merebakkan rasa bangga
menepis gerah hari resahrisau. pandang lurus ke depan
lelaki itu melaju angkuh. padaku, anak berbaju lusuh,
tak menoleh, apalagi senyum yang menoreh
langit biru bercerita tentang rindu, aspal jalan
berkisah sesal, dan angin panas berkias
wajah pias, pencarian yang dangkal.
aku termangu, terjepit dalam kerumunan
di sepanjang jalan itu. menyela bisik tetangga,
“komandan itu ayahmu!”
tapi luka telanjur menganga. menghuyungkan
langkah kecewa menuju senja.
sekilas barisan itu pun berlalu
meninggalkan jejak-jejak panjang
memerihkan dadaku
benarkah ia ayahku?
Kudus, 17 Mei 2015
Comments
Post a Comment