Senyum Ibunda
senyum ibunda membayang merekah
membelah kesumat yang kusekap dalam
kamar kelabu. ruang yang kini hampa hanya
mencatat pilu. tingkap tak terbuka
mengandangkan udara pengap menghapus
bau asin keringat yang kurindu. bunda, perih
menghamba pelukanmu, luka
mendamba memelukmu
ketika malam luruh menembus genting,
mengelus plafon dan dinding, kumaknai belaian
pada rambut dan kening. kelambu tak mampu lagi
menirai bagi gerimis jiwaku yang merinai pada
kasur dan sprei. kalau engkau berpaling,
bunda, cinta pun lepas terbanting
gelap pun menikam. tak kubiarkan wajahmu
membenam. menggigil jari-jariku melekam
sajak-sajak cintamu. kuraih bayang tapi senyummu
menjauh. sebelum merasuk pada wingit subuh
bunda, aku masih kangen!
“usah kau memuja malam, anakku!”
Kudus, 15 Mei 2015
Comments
Post a Comment