Requiem bagi Seorang Koruptor
jasad kaku
tergolek bak bangkai hewan
lidah kelu
lolong memanjang tak terhiraukan
angin beracun
pasir mengeras
tangkai berayun
putik pun lepas
ada daun-daun berbisik tentang diri yang tak bakal jadi humus
ada akar-akar berujar akan nafsu yang menjalar-jalar kesasar
kemudian berselingkuh dari hati yang kudus
kemudian keluar dari kebenaran yang berdegar
walau mampu meletik bagai belalang
walau mampu menyelinap di antara ilalang
engkau pun tak mampu menghindar lubang
engkau pun tak mampu menolak sempit ruang
ingat pada yang lain harus berdesakan mengantri
engkau memilih kursi sambil menyanyi dan berpuisi
ketika yang lain berkeringat dan berair mata darah
engkau memetik untung berlipat dengan serakah
andai gedung-gedung runtuh menyerbuk
andai gerbang-gerbang tumbang berserak
engkau pun terus mabuk
nurani pun jadi lantak
ketika yang lain menahan rintih di waktu lapar
lidahmu memilin-pilin makanan yang engkau senang
ketika yang lain kauminta untuk bersabar
engkaulah yang diam-diam menguras gudang
lantas udara pun bersaksi
tentang transaksi penuh misteri
lantas kamar pun berjanji
menjaga uang tak berkuitansi
o, engkau buta dari kata-kata
langitmu kelam menjelaga
o, engkau tuli dari ayat-ayat
jagadmu berkafan maksiat
kau tak sadar. bisa liurmu melumpuhkan kebenaran,
bara matamu menyulut kebencian, cadas kulitmu
menolak kedamaian, kias kata-katamu membelokkan
keadilan, beringas wajahmu mengobarkan keangkaraan,
senyum nafsumu menyalakan kemunafikan.
tapi kau tak sadar.
saat-saat yang kauimani
saat-saat yang kauingkari
saat-saat yang mengadili
saat-saat yang menyakiti
kini jasadmu lemah terbaring
amal ibadahmu segera diberangkatkan
kobar api berkantar menghadang
nyeri imanmu akan memekik nyaring
dan engkau pun paham pengadilan jiwa yang kotor
dan engkau pun pasrah dikenang sebagai koruptor
biarlah berlalu, biarkan angin lewat
menggemakan tahlil sendu, tercekat
tercenung para pelayat
Kudus, 2015
Comments
Post a Comment